Selasa, 30 oktober 2012
Di suatu sore yang mendung sambil berharap hujan datang serta sedang menggantung sebuah headset yang akrab di telinga. Terpikir oleh saya mengapa di negeri ini masih akrab dengan adanya konflik sesama saudara sendiri, satu tanah air. Peristiwa yang sedang hangat saat ini adalah konflik yang berada di Lampung, bentrok antar desa yang penyebabnya dipicu oleh beberapa pemuda yang menggoda dua orang gadis dari kampung sebelah. Karena tidak terima di goda, maka kedua gadis tersebut mengadu ke warga di desanya, dan amarah pun terjadi. Hmmm, ataupun tragedi yang menyebabkan seorang pelajar tewas karena tawuran beberapa waktu silam, atau konflik di daerah sampang? hmmm masih banyak lagi.
Saya pun berpikir, kenapa rasa amarah di bangsa ini, bangsa yang katanya penuh dengan toleransi masih banyak perselisihan yang terjadi. Dari sebuah konflik itu pun saya berpendapat dan mungkin sebagian dari Anda ada yang setuju dengan tidak adanya keuntungan dari sebuah permusuhan, apalagi permusuhan dengan saudara sendiri sebangsa dan setanah air. Kira-kira apa yang menjadi obat yang sekiranya mampu meredam tingkat permusuhan antara saudara sendiri? Disini adapun beberapa hal yang menurut saya mungkin bisa jadi solusi. Ini hanya pendapat saya, saya pun belum tentu benar di dalam mengemukakan pendapat, tetapi tidak ada salahnya untuk mengungkapkan pendapat.
Pertama, agama. Mengapa agama? Karena agama merupakan pondasi yang benar-benar vital di dalam menjalani sebuah kehidupan (menurut saya). Entah apapun itu agamanya, menurut saya semua agama mengajarkan kebaikan dan menghindarkan dari semua bentuk hal-hal negatif. Agama di bina sejak kita amasih kecil, dan sejak saat itu pula sebenarnya manusia yang beragama sudah mengetahui bagaimana cara membedakan mana yang baik dan yang buruk, tinggal manusia itu saja sendiri yang mau menjaga dirinya untuk terus 'lurus' atau pun 'melenceng' dari jalan yang benar. Memang semua manusia pasti pernah melakukan hal-hal yang melenceng, tapi hal melenceng itu tidak lantas dilanjutkan untuk menjadi identitas bagi hal-hal yang buruk. Bila seseorang memang mengerti agama, walaupun itu hanya dasarnya saja, maka ia tidak akan melakukan kekerasa, apalagi pembunuhan seperti yang terjadi akhir-akhir ini. Mengapa? Karena ia tahu ia akan berdosa apabila melakukan hal-hal yang keji seperti pembunuhan.
Kedua, pendidikan. Pendidikan merupakan hal yang penting selanjutnya. Pendidikan menurut saya membentuk karakter seseorang untuk selalu berpikir, bukan untuk menunjukkan kalo ia memiliki otot yang besar lantas ia menggunakannya untuk menakut-nakuti orang lain. Pendidikan mengajarkan kita kedalam hal yang spesifik, melatih cara berpikir untuk selalu berpikir apa dampak dari sebuah sebab. Pola pemikiran orang yang berpendidikan biasanya tidak lantas mengatakan 'iya" ketika ia diajak untuk melakukan suatu hal. Melainkan mereka berpikir dulu sebelum melakukan suatu hal tersebuat karena ia memikirkan dampak dari perbuatannya apakah perbuatannya benar atau tidak baginya maupun bagi orang-orang di sekitarnya. Memang salah satu hal yang di prihatinkan dari pendidikan di negara ini adalah, kurangnya SDM yang kompeten di daerah-daerah terpencil sehingga banyak dari daerah-daerah terpencil tersebut yang kurang mengenyam pendidikan yang seharusnya. Sebenarnya ini salah siapa? Saya pun bertanya-tanya pada diri saya sendiri, mengapa hal ini bisa terjadi, di saat banyaknya jumlah pendidik di jakarta, namun berbanding terbalik dengan jumlah pendidik di daerah-daerah. Mengapa di jakarta banyak pendidiknya? Mungkin Anda akan menjawab 'upah', ya saya pun tidak memungkiri hal itu. Serta infrastruktur yang sudah memadai di jakarta menjadi salah satu alasan lain. Terpikir oleh saya, mengapa pemerintah tidak meyebar pendidik yang kompeten untuk menjadi pengajar di daerah-daerah dengan penyamaan upah untuk semua guru? Mungkin dengan hal itu maka pendidikan di daerah-daerah tidak tertinggal seperti kota-kota besar di Indonesia. Memang tidak mudah, namun apa salahnya mencoba? Pendidikan sangat vital untuk sebuah bangsa yang terus berkembang seperti negeri ini. Alangkah indahnya jika pendidikan menjadi makanan utama bagi warga negara ini, mungkin permusuhan di antara saudara sendiri tidak akan terjadi.
Selanjutnya adalah menurut saya yaitu pendapatan ekonomi. Pendapatan ekonomi yang rendah di suatu keluarga akan menyebabkan emosi yang tinggi bila ada hal-hal yang mengusik sedikit saja dengan dirinya. Hal itu rentan terjadi karena sudah pendapatan yang kurang serta dipusingkan oleh hal-hal yang ada, sehingga bila ada suatu permasalahan, emosi pun meledak-ledak. emosi pun hanya akan memperpanjang masalah.
Sekali lagi, ini semua memang bergantung dari pola pikir seseorang dalam menghadapi suatu hal. Semakin orang itu beragama dan berpendidikan walaupun pendapatan ekonominya kurang, maka saya yakin orang tersebut akan menghindari dari suatu keributa, konflik, atau apalah namanya. Ini semua hanya pendapat saya seorang, pendapat dari seseorang belum tentu benar, begitu pun dengan pendapat saya. Saya hanya berharap agar saudara-saudara saya sebangsa dan setanah air lebih menghargai arti dari sebuah 'persaudaraan'. Semoga konflik-konflik yang ada ni negeri ini segera berakhir dengan damai dan tidak akan pernah ada keributan antar SARA lagi.