Monday, January 7, 2013

The Beginning


Tersebutlah 7 orang pemuda-pemudi yang terdiri dari Joni, Rendra, Inez, Tommy, Rena, Helmi, dan Bondan. Mereka adalah orang-orang yang di pertemukan pada saat menempuh SMA, saat dimana para pelajar menganggap bahwa putih abu-abu adalah masa emas dan masa dari titik awal mewujudkan segala keinginan.

Saat Sekolah Dasar.

Tommy dan Helmi sudah berteman sejak mereka duduk di bangku SD, SD mereka berada di daerah Bekasi yang berbatasan dengan Depok dan Bogor, sebut saja Kranggan. Tommy dan Helmi adalah dua sahabat yang suka bermain sepakbola sejak kecil, di SD mereka bersekolah, biasanya mereka melakukan kegiatan bersepak bola pada jam istirahat dan setelah pulang sekolah. Namun Helmi harus meminta ijin dulu kepada sang pentolan di sekolah tersebut untuk bermain sepakbola, setelah ijin diterima maka barulah Helmi bermain bola bersama, beda halnya dengan Tommy yang dengan sesuka hati bisa langsung bermain bola tanpa harus meminta ijin kepada sang pentolah di sekolah mereka. Tommy adalah pribadi yang cenderung pasif, sekalipun dia aktif, ya hanya pada saat dia menggoda cewek-cewek cantik yang ada di sekolahnya. Pada suatu waktu, pada saat Tommy dan teman-teman bermain bola di lapangan yang tidak jauh dari sekolahnya, bola yang di tendang oleh temannya Tommy pun jauh melenceng kearah sungai, dan pada saat itu Tommy mengambil bola, namun sial bagi Tommy karena hal itu memaksa ia harus kesurupan dan membuatnya trauma sekolah selama hampir dua minggu . Sedangkan Helmi adalah pribadi yang pemalas, gemar buang air di sekolah, jam pertama selalu ia habiskan dengan bergulat di kamar mandi yang ada di sekolahnya. Ia selalu memilih kamar mandi yang ada di sisi kanan dari dua kamar mandi yang tersedia tepat berada di samping koperasi sekolah. Karena menurutnya kamar mandi tersebut sudah sangat nyaman baginya karena pintu kamar mandinya ada slot kuncinya, sehingga tidak bisa di dobrak dibanding dengan kamar mandi di sebelahnya. Ia tidak pernah membilasnya dengan sabun setelah melakukan kewajiban jam pertamanya. Kebiasaan dari Tommy dan Helmi ini terbawa hingga mereka berada di SMA. Mereka seperti orang yang memiliki ketergantungan antara satu dan yang lainnya. Mereka selalu berangkat dan pulang sekolah bareng pada saat SMA, kecuali ketika Tommy memiliki pacar, sehingga memaksa Helmi mencari tumpangan yang satu arah atau satu perumahan dengannya untuk pulang bareng ke rumah.


Selanjutnya yakni ada Inez dan Rena, mereka berdua juga berteman baik sejak bangku Sekolah Dasar. Mereka memiliki kesenangan terhadap hal yang sama, yakni menari dan bernyanyi. Mereka mengikuti beberapa kejuaraan pada saat SD, dan memenangkan beberapa diantaranya. Mereka bersekolah di sebuah yayasan yang memiliki nama baik di daerahnya. Kedua orangtua mereka pun saling kenal satu sama lain. Muka mereka pun nampak sekilas mirip, Cuma yang membedakannya adalah potongan rambut mereka, Inez gemar berambut pendek, sedangkan Rena suka rambutnya menutupi dahinya dan terurai lurus layaknya iklan sampo. Kebiasaan buruk dari Inez adalah ia gemar membiarkan ingusnya menggantung pada saat ia terkena sakit flu, sedangkan Rena gemar mengupil di kelas dan memeperkannya di dinding kelas atau di bawah meja ia belajar, malah terkadang upilnya suka ia sentil ke sembarang arah, sehingga membuat teman-temannya geram akan sifat buruk Rena. Suatu hari mereka berdua kedapatan mengikuti kegiatan Abang None cilik di tingkat provinsi, dan mereka memenangkan kompetisi tersebut. Kemenangan mereka, membawa mereka di hadiahi membintangi sebuah iklan anak-anak, yakni iklan Anak Mas.

Joni, Rendra, dan Bondan adalah tiga orang lainnya dari SD yang berada di daerah Jakarta. Mereka memang satu Sekolah Dasar pada saat itu, namun mereka tidak mengenal satu sama lain karena mereka berbeda kelas. Joni adalah tipe anak kecil yang gemar dengan hal-hal yang bisa di lakukannya secara sendiri. Seperti bermain nintendo ,bermain dingdong, bermain tamagochi, mengkoleksi tazos, dan senang bermain mobil-mobilan yang terbuat dari bekas sendal jepit. Pada saat sekolah, Joni selalu mengkhawatirkan tamagochinya. Ia takut binatang peliharannya mati kelaparan atau  membersihkan kandangnya dari kotoran binatang peliharannya tersebut. Joni memiliki kemudahan dalam belajar, namun pada saat ia mulai mengenal tazos, ia tidak sepintar sebelumnya karena ia sudah mulai gemar memakan chiki untuk mengkoleksi tazos yang ia inginkan. Rendra adalah tipe anak kecil yang suka main pada siang hari, setiap pulang sekolah ia memang langsung pulang ke rumahnya, namun setelah itu ia gemar bermain layangan siang hari di lapangan yang tidak jauh dari rumahnya. Sehingga ia terlihat lebih hitam dari temannya yang lain. Ia juga gemar bermain sepeda, pada suatu hari saat ia bermain sepeda dan sedang bergaya-gaya yakni melepas tangannya dari stang sepeda pada saat turunan ia harus terjatuh karena ada polisi tidur pada saat ia melepas tangannya. Akibatnya bibir ia pun luka dan kedapatan susah untuk mengunyah makanan. Bondan, adalah seorang anak kecil yang gemar bermain dengan siapa pun. Ia memiliki hobi mengkoleksi mainan Dragon Ball, dan juga gemar bermain sepakbola. Di setiap tahun di RW tempat Bondan tinggal, selalu ada kompetisi sepakbola antar RT di bawah usia 13 tahun, Bondan selalu mengikuti kegiatan ini dengan senang hati. Ia menjuarai turnamen ini dua kali, pada saat ia kelas 4 dan kelas 6. Pada kelas 6 ia meraihnya juga dengan gelar topskor, pada kelas 5 ia hanya mampu meraih runner-up di turnamen tersebut. Ia juga memiliki kenangan buruk saat kecil, dimana pada saat ia bermain petak umpet, ia harus menabrak tiang listrik dan menyebabkan gigi depannya sedikit patah.


Bersambung… 

Thursday, January 3, 2013

Nongkrong = Pepesan Kosong?


Kamis, 03 januari 2013

Saya dan teman-teman saya memiliki kebiasaan yang kebanyakan orang-orang lain juga lakukan, mungkin bedanya ada di kebiasaan kami yang suka berkumpul di salah satu rumah teman kami (tentunya rumah orangtuanya) secara bergiliran main ke rumah siapa, tergantung situasi dan kondisi hehe. Agaknya kebiasaan berkumpul ini merupakan kebiasaan yang paling nyaman kami lakukan sejak kami berteman baik sejak kelas 1 SMA semester dua akhir sampai dengan saat ini, bukan di kafe atau pun buka dari jam 7 pagi lalu tutup jam 11 malam hehe. Kami suka kumpul di rumah karena selain lebih irit, juga mampu mendekatkan diri kepada keluarga teman-teman kami.
Pada hampir tiga tahun pertama kali berkumpul, isinya hanya kebanyakan omong kosong, sekalipun berbobot yakni pada saat menjelang ujian nasional, mulai membicarakan perguruan tinggi, mengerjakan soal-soal ujian nasional atau soal-soal perguruan tinggi negeri (impian kami pada saat itu).
Setelah memasuki kuliah, mulai ada yang berubah dari obrolan yang kami lakukan. Kami sesekali berbicara tentang politik, sosial, pendidikan, atau hal lainnya yang kami anggap masih bisa di obrolkan selama masih ada minimal dua orang yang mengerti pembicaraan tadi. Obrolan yang menurut saya sentimentil, yakni tentang agama pun kami masih suka bicarakan, bukan hanya dari agama yang saya peluk, tapi juga dari teman saya yang berbeda agama dengan saya, disini kita hanya share hal-hal yang kami ingin tahu, tanpa harus menganggap agama ini yang paling benar atau agama itu yang paling benar. Mengapa disini kita berani menyinggung agama? Karena kami memiliki pemikiran, bahwa kita sudah dewasa dan mengerti bagaimana menyikapi perbedaan yang ada, karena pada dasarnya yang saya yakin, kita sudah memiliki prinsip yang fundamental pada diri masing-masing (saya dan teman-teman saya). Sesekali kami pun berbicara tentang politik, mungkin jadinya agak sok tahu jika berbicara tentang politik, karena kami orang yang awam, namun asik aja berbicara politik haha. Saya meyakini, bahwa tidak ada yang utopia di dunia ini dari ciptaan manusia. Politik di negeri ini selalu menjadi bahan rebutan untuk merebut kekuasaan, menggadang-gadang ingin menjadikan negeri yang makmur dan adil seperti negeri Indraprastha dalam kisah mahabarata.
Sering kali memang kami masih berbicara tentang hal-hal yang tidak penting, karena pada dasarnya hidup tidak melulu harus serius, diimbangi dengan tertawa, seperti kita terkadang mentertawakan tindakan orang-orang  di gedung kembar sana yang mengatas namakan rakyat.
Memang budaya nongkrong, budaya yang paling akrab bagi orang-orang Indonesia, tetapi sekiranya bila kita nongkrong, tidak melulu harus berisi pepesan kosong, sedikitnya di isi dengan diskusi atau tukar pendapat, walaupun masih angan-angan akan kebaikan negara ini, siapa tahu action  kita suatu hari nanti bisa berdampak positif bagi negeri ini J
Disini saya ingin mengutip ucapan-ucapan dari teman-teman saya ketika berkumpul:
“mestinya di DPR, di isi dengan anak-anak emas dari masing-masing daerah, sehingga anggota DPR berisikan orang-orang yang berkualitas”.
“generasi kita generasi pengubah buat bangsa ini suatu hari nanti”.
“sekalipun gw berada di lingkungan kerja yang kotor, gw akan berusaha tetap menjadi orang yang bersih”.
Kutipan diatas tidak sepersis yang terucap oleh teman-teman saya, tapi yang saya ingat poin pentingnya. Masih banyak lagi kata-kata yang sok emas dari kami hehe.