Kamis, 03 januari 2013
Saya dan teman-teman saya
memiliki kebiasaan yang kebanyakan orang-orang lain juga lakukan, mungkin
bedanya ada di kebiasaan kami yang suka berkumpul di salah satu rumah teman
kami (tentunya rumah orangtuanya) secara bergiliran main ke rumah siapa,
tergantung situasi dan kondisi hehe. Agaknya kebiasaan berkumpul ini merupakan
kebiasaan yang paling nyaman kami lakukan sejak kami berteman baik sejak kelas
1 SMA semester dua akhir sampai dengan saat ini, bukan di kafe atau pun buka
dari jam 7 pagi lalu tutup jam 11 malam hehe. Kami suka kumpul di rumah karena
selain lebih irit, juga mampu mendekatkan diri kepada keluarga teman-teman kami.
Pada hampir tiga tahun pertama
kali berkumpul, isinya hanya kebanyakan omong kosong, sekalipun berbobot yakni
pada saat menjelang ujian nasional, mulai membicarakan perguruan tinggi,
mengerjakan soal-soal ujian nasional atau soal-soal perguruan tinggi negeri
(impian kami pada saat itu).
Setelah memasuki kuliah, mulai
ada yang berubah dari obrolan yang kami lakukan. Kami sesekali berbicara
tentang politik, sosial, pendidikan, atau hal lainnya yang kami anggap masih
bisa di obrolkan selama masih ada minimal dua orang yang mengerti pembicaraan
tadi. Obrolan yang menurut saya sentimentil, yakni tentang agama pun kami masih suka
bicarakan, bukan hanya dari agama yang saya peluk, tapi juga dari teman
saya yang berbeda agama dengan saya, disini kita hanya share hal-hal yang kami ingin tahu, tanpa harus menganggap agama
ini yang paling benar atau agama itu yang paling benar. Mengapa disini kita
berani menyinggung agama? Karena kami memiliki pemikiran, bahwa kita sudah
dewasa dan mengerti bagaimana menyikapi perbedaan yang ada, karena pada
dasarnya yang saya yakin, kita sudah memiliki prinsip yang fundamental pada
diri masing-masing (saya dan teman-teman saya). Sesekali kami pun berbicara
tentang politik, mungkin jadinya agak sok tahu jika berbicara tentang politik,
karena kami orang yang awam, namun asik aja berbicara politik haha. Saya
meyakini, bahwa tidak ada yang utopia di dunia ini dari ciptaan manusia.
Politik di negeri ini selalu menjadi bahan rebutan untuk merebut kekuasaan,
menggadang-gadang ingin menjadikan negeri yang makmur dan adil seperti negeri
Indraprastha dalam kisah mahabarata.
Sering kali memang kami masih
berbicara tentang hal-hal yang tidak penting, karena pada dasarnya hidup tidak
melulu harus serius, diimbangi dengan tertawa, seperti kita terkadang
mentertawakan tindakan orang-orang di
gedung kembar sana yang mengatas namakan rakyat.
Memang budaya nongkrong, budaya
yang paling akrab bagi orang-orang Indonesia, tetapi sekiranya bila kita
nongkrong, tidak melulu harus berisi pepesan kosong, sedikitnya di isi dengan
diskusi atau tukar pendapat, walaupun masih angan-angan akan kebaikan negara
ini, siapa tahu action kita suatu hari nanti bisa berdampak positif
bagi negeri ini J
Disini saya ingin mengutip
ucapan-ucapan dari teman-teman saya ketika berkumpul:
“mestinya di DPR, di isi dengan
anak-anak emas dari masing-masing daerah, sehingga anggota DPR berisikan
orang-orang yang berkualitas”.
“generasi kita generasi pengubah
buat bangsa ini suatu hari nanti”.
“sekalipun gw berada di
lingkungan kerja yang kotor, gw akan berusaha tetap menjadi orang yang bersih”.
Kutipan diatas tidak sepersis
yang terucap oleh teman-teman saya, tapi yang saya ingat poin pentingnya. Masih
banyak lagi kata-kata yang sok emas dari kami hehe.
No comments:
Post a Comment