Keakraban Helmi dan Tommy selama SD mesti terpisah pada saat
SMP, namun meski berbeda sekolah, mereka masih suka bermain bersama karena
letak rumah mereka yang berdekatan. Helmi harus menempuh jarak 10KM dari rumah
untuk bisa sampai ke sekolahnya, karena jarak sekolah yang cukup jauh, maka
orangtua Helmi memutuskan untuk menggunakan jasa antar jemput dari sekolah
tempat Helmi menuntut ilmu. Jarak yang cukup jauh, memaksa jemputan Helmi harus
menjemputnya untuk menjadi orang yang pertama di angkut ke mobil. Seperti
halnya mobil jemputan pada umumnya, mobil itu mesti keliling menjemput satu per
satu langganannya. Karena Helmi menjadi orang yang pertama di jemput, yakni
sekitar jam 5 pagi, maka kadang di mobil jemputannya itu Helmi suka menahan
kebiasaannya membuang air di dalam mobil sambil sesekali membuangnya lewat
angin yang membuat teman satu sekolahnya di dalam mobil merasa kesal karena
kebiasaan membuang angin tersebut. Di sekolah pun ia suka menjadi siswa yang
jail terhadap teman-temannya, terutama teman wanitanya. Keisengannya membuat ia
menjadi siswa yang hyperaktif, sehingga beberapa kali orangtuanya mesti di
panggil ke sekolah untuk mendapat teguran akibat perbuatan Helmi.
Tommy? Tommy mendapati sekolah yang tidak begitu jauh dari rumahnya,
yakni sekitar 4KM dari rumahnya. Di sekolahnya itu ia di gandrungi
wanita-wanita cantik yang menjadi teman sebayanya bahkan kakak kelasnya pun ada
beberapa yang suka terhadap ketampanan Helmi. Ketampanan Helmi membuatnya
merasa percaya diri ketika mesti berdekatan dengan wanita, namun suatu ketika
ia mendapati harus gigit jari saat wanita kesukaannya tidak menyukai dirinya
karena wanita tersebut menganggap ketampanan Tommy membuatnya khawatir untuk
selingkuh dari dirinya. Tommy pun kecewa dengan keputusan si wanita, dan harus
membuat Tommy menghentikan kegiatan tebar pesonanya agar hati sang wanita pun
luluh dan membuatnya berpikir untuk menerima cinta Tommy. Ya meski sekadar
cinta monyet. Di sekolah tersebut Tommy mempunyai teman baru yang berasal dari
daerah Kebumen, sebut saja namanya Fahmi. Karena baru pindah dari Kebumen, cara
bicara Fahmi pun masih medog dengan logat daerah asalnya. Mereka berteman baik
karena rumah mereka yang masih satu perumahan, suka pulang bareng pada saat
pulang sekolah dan sering di palak pada saat pulang lewat kuburan yang memang
menjadi jalan pintas untuk pulang lebih cepat ke rumahnya karena rute angkot
yang tidak ada sampai dekat dengan rumahnya. Berkali-kali mereka mesti di palak
di jalan yang sama, bodohnya mereka adalah kenapa harus lewat jalan yang sama
kalau toh ujung-ujungnya mesti di palak J
pada suatu ketika mereka mempunyai ide untuk lewat jalan tersebut namun dengan
menyelipkan uang yang mereka punya di dalam kaos kaki atau di dalam sepatu,
tapi tetap saja mereka harus gigit jari karena si pemalak lagi-lagi berhasil
membuat mereka menyerahkan uang mereka.
Inez. Si anak yang gemar berambut pendek dan suka membiarkan
ingusnya menggantung pada saat flu ini kedapatan masuk sekolah unggulan di
dekat daerah rumahnya, sehingga ia tidak perlu waktu yang lama untuk sampai ke
sekolah. Perlahan kebiasaan burk Inez pun menghilang seiring bertambahnya
rambut pendek Inez. Lambat laun Inez menyukai rambutnya terurai panjang
layaknya rambut Rena. Inez pun pelan-pelan menjadi wanita yang suka
memperhatikan penampilannya, sehingga ia terkadang terlihat lebih dewasa di
lingkungan temannya, atau mungkin terlihat tua J
Di umurnya yang masih belia ia memang terlihat lebih centil di banding teman
sebayanya dan bahkan pernah memiliki dua pacar di waktu yang bersamaan. Kebiasaan
Inez untuk rajin berdandan di karenakan ia suka membeli majalah fashion yang
belum semestinya ia baca. Di sekolah, ia pun pernah sesekali masuk acara
televisi seperti acara Bando yang memiliki slogan “ya ampuunnnn”. Pada saat
mengikuti acara itu ia berhasil memasuki babak final, akan tetapi ia mesti
kalah di final oleh peserta dari sekolah lain. Inez, ah ya siswi yang selalu
memberi warna bagi teman-temannya, warna make-up maksudnya.
Melanjutkan di sekolah yang satu yayasan semasa SD-nya
membuat Rena menjadi pribadi yang semakin hari semakin friendly. Ia makin mudah
bergaul dengan teman-temannya, meskipun harus berpisah untuk sementara waktu
dengan Inez sahabat karibnya, namun ia tetap menjadi orang yang kaya akan teman.
Terbukti teman-teman stau sekolahnya kenal dengan Rena. Pada saat sekolah
menengah ia pun rajin ikut kompetisi-kompetisi mata pelajaran, terutama kompetisi
matematika, beberapa kejuaraan pun ia ikuti dan sesekali memenangi kejuaraan
yang ia ikuti. Namun Rena tetaplah Rena, kebiasaan memain-mainkan upil pun
tidak pernah hilang sampai saat ia SMP, sampai pernah suatu kali hidungnya
lecet karena ia keseringan mengupil karena mengupilnya terlalu dalam. Namun suatu
waktu ia kedapatan sial, saat ada kelas olahraga untuk materi lompat jauh, ia
mesti mendapat perawatan di UKS karena ia mendarat dengan tidak sempurna,
akibatnya ia mesti absen sekolah selama seminggu. Menjadi anak pertama
membuat Rena menjadi anak yang agak manja, ia selalu minta di belikan ini itu
pada saat ia bersama keluarganya pergi ke suatu tempat. Rena pun gemar bermain
bom-bom car yang notabene merupakan permainan laki-laki. Gemar bermain
timezone, serta gemar bermain Playstation adalah kesukaan lainnya, namun ia tidak melupakan kodratnya sebagai wanita yaitu menjepit rambutnya.
Bersambung…
No comments:
Post a Comment